Kamis, 01 November 2012

makalah pneumonia

PNEUMONIA


KATA PENGANTAR


Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Ilmu Kesehatan Anak ini dengan judul “ PNEUMONIA “. Makalah ini di susun dalam rangka memenuhi tugas kelompok mata kuliah Ilmu Kesehatan Anak Program Studi Ilmu Keperawatan Stikes Fort De Kock Bukittinggi.

Dalam menyusun makalah ilmiah ini, penulis banyak memperoleh bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dosen Pembimbing dan kepada teman teman yang telah mendukung terselesaikannya makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna sempurnanya makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.
 Bukittinggi, September 2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Pneumonia adalah salah satu penyakit yang menyerang saluran nafas bagian bawah yang terbanyak kasusnya didapatkan di praktek-praktek dokter atau rumah sakit dan sering menyebabkan kematian terbesar bagi penyakit saluran nafas bawah yang menyerang anak-anak dan balita hampir di seluruh dunia. Diperkirakan pneumonia banyak terjadi pada bayi kurang dari 2 bulan, oleh karena itu pengobatan penderita pneumonia dapat menurunkan angka kematian anak.
Salah satu penyebab utama kematian bayi dan anak Balita adalah penyakit ISPA yang di akibatkan oleh penyakit pneumonia. Strategi dalam penanggulangan pneumonia adalah penemuan dini dan tatalaksana anak batuk dan tau kesukaran bernapas yang tepat.
Sejak 1990 Departemen Kesehatan telah mengadaptasi, menggunakan dan menyebarluaskan pedoman tata laksana pneumonia Balita yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian Balita karena Pneumonia.

1.2 Tujuan Makalah
1. Mengetahui defenisi dari Pneumonia.
2. Mengetahui penyebab dari Pneumonia.
3. Mengetahui gejala atau manifestasi klinis dari Pneumonia.
4. Mengetahui komplikasi dan bagaimana cara penatalaksanaan (therapy) dari    Pneumonia. 


BAB II
PEMBAHASAN

2.1    DEFENISI
1)    Di dalam buku “Pedoman Pemberantasan Penyakit ISPA untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita” di sebutkan bahwa pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang mengenai bagian paru ( jaringan alvioli) (DepKes RI, 2004:4). Pertukaran oksigen dan karbondioksida terjadi pada kapiler kapiler pembuluh darah dalam alvioli. Pada penderita pneumonia, nanah (pus) dan cairan akan mengisi alvioli tersebut sehingga terjadi kesulitan penyerapan oksigen. Hal ini mengakibatkan kesukaran bernapas (DepKes RI, 2007:4)
2)    Menurut Mahmud, 2006 menyebutkan bahwa pneumonia adalah terjadinya peradangan pada salah satu atau kedua organ paru yang di sebabkan oleh infeksi.
3)    Peradangan tersebut mengakibatkan jaringan pada paru terisi oleh cairan dan tak jarang menjadi mati dan timbul abses (Prabu, 1996:37). Penyakit ini umunya terjadi pada anak anak dengan ciri ciri adanya demam, batuk di sertai napas cepat (takipnea) atau napas sesak. Defenisi kasus tersebut hingga kini digunakan dalam program pemberantasan dan penanggulangan ISPA oleh Departemen Kesehatan RI setelah sebelumnya di perkenalkan oleh WHO pada tahun 1989.
4)    Menurut Wahab, 2000, pneumonia merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan yang di tunjukkan dengan adanya pelebaran cuping hidung, ronki, dan retraksi dinding dada atau sering di sebut tarikan dada bagian bawah ke dalam (chest indrawing)
5)    Pengertian pneumonia dalam buku “ Perawatan Anak Sakit” yang di tulis Ngastiyah yang di terbitkan oleh EGC mengatakan bahwa pneumonia adalah suatu radang paru yang di sebabkan oleh bermacam macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur, dan benda asing.
2.2     ETIOLOGI
Tubuh mempunyai daya tahan yang berguna untuk melindungi dari bahaya infeksi melalui mekanisme daya tahan traktus respiratorius yang terdidi dari :
a.    Susunan anatomis dari rongga hidung
b.    Jaringan limfoid di naso faring
c.    Bulu getar yang meliputi sebagian besar epitel traktus respiratorius dan sekret yang di keluarkan oleh sel epitel tersebut
d.    Refleks batuk
e.    Refleks epiglotis yang mencegah terjadinya aspirasi sekret yang terinfeksi
f.    Drainase sistem limfatik dan fungsi menyaring kelenjar limfe regional
g.    Fagositas, aksi enzimatik  dan respon immunohumoral terutama dari IgA
Anak dengan daya tahan terganggu akan menderita pneumonia berulang atau tidak mampu mengatasi penyakit ini dengan sempurna. Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya pneumonia adalah daya tahan tubuh yang menurun misalnya akibat malnutrisi energi protein (MEP), penyakit menahun, trauma pada paru, anestesia, aspirasi, dan pengobatan dengan antibiotik yang tidak sempurna..
Etiologi pneumonia dapat dibedakan berdasarkan anatomi dan agen penyebab infeksinya. Pembagian pneumonia menurut anatominya :
a.    Pneumonia lobaris
b.    Pneumonia lubularis ( Bronkopneumonia)
c.    Pneumonia interstitialis ( Bronkiolitis )
Sedangkan pembagian pneumonia menurut etiologis atau agen penyebab infeksinya adalah :
a.    Bakteri (paling sering menyebabkan pneumonia pada orang dewasa) :
•    Staphylococcus aureus
•    Legionella
•    Hemophillus influenzae

b.    Virus
•    Virus influenzae
•    Chicken pox (cacar air)
c.    Mycoplasma pneumoniae (organisme yang mirip bakteri)
d.    Jamur
•    Aspergilus
•    Histoplasma
•    koksidioidomikosis
e.    Aspirasi ( makanan, amnion dsb )
f.    Pneumonia hipostatik
g.    Sindrom loeffler
Pada umumnya pneumonia terjadi akibat adanya infeksi bakteri pneumokokus (streptokokus pneumoniae ). Beberapa penelitian menemukan bahwa kuman ini menyebabkan pneumonia hampir pada semua kelompok umur dan paling banyak terjadi di negara negara berkembang. 
Akan tetapi dari pandangan yang berbeda di dapatkan bahwa gambaran etiologi pneumonia dapat di ketahui berdasarkan umur penderita. Hal ini terlihat dengan adanya perbedaan agen penyebab penyakit, baik pada bayi maupun balita. Ostapchuk menyebutkan kejadian pneumonia pada bayi neonatus lebih banyak disebabkan oleh bakteri streptokokus dan gram negatif enteric bacteria (escherichia coli). Sementara itu, pneumonia pada anak anak balita lebih sering di sebabkan oleh virus, salah satunya adlah Respiratory syncytial virus.

2.3    PATOFISIOLOGI
Suatu penyakit infeksi pernapasan dapat terjadi akibat adanya serangan agen infeksius yang bertransmisi atau di tularkan melalui udara. Namun pada kenyataannya tidak semua penyakit pernapasan di sebabkan oleh agen yang bertransmisi denagan cara yang sama. Pada dasarnya agen infeksius memasuki saluran pernapasan melalui berbagai cara seperti inhalasi (melaui udara), hematogen (melaui darah), ataupun dengan aspirasi langsung ke dalam saluran tracheobronchial. Selain itu masuknya mikroorganisme ke dalam saluran pernapasan juga dapat di akibatkan oleh adanya perluasan langsung dari tempat tempat lain di dalam tubuh. Pada kasus pneumonia, mikroorganisme biasanya masuk melalui inhalasi dan aspirasi. 
 Dalam keadaan sehat pada paru tidak akan terjadi pertumbuhan mikroorganisme, keadaan ini disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan paru. Terdapatnya bakteri di dalam paru merupakan ketidakseimbangan antara daya tahan tubuh, sehingga mikroorganisme dapat berkembang biak dan berakibat timbulnya infeksi penyakit.
Sekresi enzim – enzim dari sel-sel yang melapisi trakeo-bronkial yang bekerja sebagai antimikroba yang non spesifik. Bila pertahanan tubuh tidak kuat maka mikroorganisme dapat melalui jalan nafas sampai ke alveoli yang menyebabkan radang pada dinding alveoli dan jaringan sekitarnya. Setelah itu mikroorganisme tiba di alveoli membentuk suatu proses peradangan yang meliputi empat stadium, yaitu :
1.     Stadium I (4 – 12 jam pertama/kongesti)
Disebut hiperemia, mengacu pada respon peradangan permulaan yang berlangsung pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai dengan peningkatan aliran darah dan permeabilitas kapiler di tempat infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediator-mediator peradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan. Mediator-mediator tersebut mencakup histamin dan prostaglandin. Degranulasi sel mast juga mengaktifkan jalur komplemen. Komplemen bekerja sama dengan histamin dan prostaglandin untuk melemaskan otot polos vaskuler paru dan peningkatan permeabilitas kapiler paru. Hal ini mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang interstisium sehingga terjadi pembengkakan dan edema antar kapiler dan alveolus. Penimbunan cairan di antara kapiler dan alveolus meningkatkan jarak yang harus ditempuh oleh oksigen dan karbondioksida maka perpindahan gas ini dalam darah paling berpengaruh dan sering mengakibatkan penurunan saturasi oksigen hemoglobin.


2.      Stadium II (48 jam berikutnya)
Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel darah merah, eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu ( host ) sebagai bagian dari reaksi peradangan. Lobus yang terkena menjadi padat oleh karena adanya penumpukan leukosit, eritrosit dan cairan, sehingga warna paru menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar, pada stadium ini udara alveoli tidak ada atau sangat minimal sehingga anak akan bertambah sesak, stadium ini berlangsung sangat singkat, yaitu selama 48 jam.
3.      Stadium III (3 – 8 hari)
Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel.
Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai diresorbsi, lobus masih tetap padat karena berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi pucat kelabu dan kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti.
4.      Stadium IV (7 – 11 hari)
Disebut juga stadium resolusi yang terjadi sewaktu respon imun dan peradangan mereda, sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsorsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali ke strukturnya semula.

Penyakit pneumonia sebenarnya merupakan manifestasi dari rendahnya daya tahan tubuh seseorang akibat adanya peningkatan kuman patogen seperti bakteri yang menyerang saluran pernapasan. Selain adanya infeksi kuman dan virus, menurunnya daya tahan tubuh dapat juga di sebabkan karena adanya tindakan endotracheal dan tracheostomy serta konsumsi obat obatan yang dapat menekan refleks batuk sebagai akibat dari upaya pertahanan saluran pernapasan terhadap serangan kuman dan virus.

2.4    GEJALA/MANIFESTASI KLINIS
Gejala pada pneumonia adalah antara lain :
a.    Kesulitan dan sakit pada saat bernapas : nyeri pleuritik, nafas dangkal dan mendengkur, tachipnoe.
b.    Bunyi nafas di atas area yang mengalami konsolidasi : mengecil, kemudian menjadi hilang, ronchi
c.    Gerakan dada tidak simetris
d.    Menggigil dan demam 38,8’C sampai 41,1’C
e.    Diaforesis
f.    Anoreksia
g.    Malaise
h.    Batuk kental, produktif : sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan atau berkarat
i.    Gelisah
j.    Cyanosis
k.    Masalah masalah psikososial : disorientasi dan anxietas
Kejadian pneumonia pada balita diperlihatkan dengan adanya ciri ciri demam, batuk, pilek, disertai sesak napas dan tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam, serta cyanosis pada infeksi yang berat. Tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam terjadi karena gerakan  paru yang mengurang akibat infeksi pneumonia yang berat.. pada usia di bawah 3 bulan, kejadian pneumonia di ikuti dengan penyakit pendahulu seperti otitis media, conjuctivitis, laryngitis, dan pharyngitis.
Pneumonia berat pada anak umur 2 bulan - <5 tahun di lihat dari adanya kesulitan bernapas dan atau tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam, sedangkan pada anak umur <2 bulan di ikuti dengan adanya napas cepat dan atau terikan dinding dada bagian bawah ke dalam.

Kriteria napas cepat berdasarkan frekwensi pernapasan di bedakan menurut umur anak. Untuk umur kurang dari 2 bulan, di katakan napas cepat, jika frekwensi napas 60x/menit atau lebih, sedangkan untuk umur 2 bulan sampai <12 bulan jika >50x/menit dan umur 12 bulan sampai <5 tahun jika >40x/menit.
2.5    KOMPLIKASI
1.    Pneumothorax
Udara dari alveolus yang pecah di sebabkan karena sumbatan atau peradangan di saluran bronkioli yang membuat udara bisa masuk namun tidak bisa keluar. Lambat laun alveolus menjadi penuh sehingga tak kuat menampung udara dan pecah.
2.    Empiyema (peradangan di paru)
Peradangan terjadi karena kuman atau bakteri berhasil di lokalisasi oleh pertahanan tubuh namun tidak dapat di basmi akhirnya muncul nanah dan mengumpul di antara paru paru dan dinding dada.


2.6    FAKTOR RESIKO PNEUMONIA
Faktor faktor resiko kesakitan (morbiditas) pneumonia adalah antara lain umur, jenis kelamin, gizi kurang, riwayat BBLR, pemberian ASI yang kurang, defesiensi Vit A, status imunisasi, polusi udara, ventilasi rumah dan pemberian makanan yang terlalu dini.

a.    Umur
Umur merupakan salah satu faktor resiko utama pada beberapa penyakit. Hal ini di sebabkan karena umur dapat memperlihatkan kondisi  kesehatan seseorang. Anak anak yang berumur 0-24 bulan lebih rentan terhadap penyakit pneumonia di bandingkan anak anak yang berumur di atas 2 tahun. Hal ini di sebabkan karena imunitas yang belum sempurna dan lubang pernapasan yang relatif sempit.
b.    Jenis kelamin
Penelitian di Uruguay menunjukkan bahwa pada tahu 1997-1998, 58% penderita pneumonia yang di rawat di RS adalah laki laki.
c.    Riwayat BBLR
Bayi dengan BBLR beresiko mengalami kematian akibat pneumonia, hal ini di sebabkan karena zat anti kekebalan di dalam tubuhnya belum sempurna sehingga memiliki resiko yang lebih besar untuk menderita pneumonia.
d.    Pemberian ASI
ASI mengandung nutrisi dan zat zat penting yang berguna terhadap kekebalan tubuh bayi. Oleh sebab itu, sangat penting bagi bayi untuk segera di berikan ASI sejak lahir karena pada saat itu bayi belum dapat memproduksi kekebalannya sendiri.
Pemberian ASI ternyata dapat menurunkan resiko pneumonia pada bayi dan balita. Penelitian di Rwanda melaporkan bahwa bayi yang di rawat di rumah sakit karena pneumonia lebih beresiko pada bayi yang tidak memperoleh ASI.
e.    Status Gizi
f.    Status Imunisasi
Pada dasarnya beberapa penyakit penyakit infeksi yang terjadi pada anak anak dapat di cegah dengan imunisasi. Yaitu antara lain ; difteri, pertusis, tetanus, hepatitis, tuberkulosis, campak dan polio. Beberapa hasil studi menunjukkan bahwa pneumonia juga merupakan penyakit yang dapat di cegah melalui pemberian imunisasi yaitu dengan imunisasi campak dan pertusis. Penyakit pertusis berat dapat menyebabkan infeksi saluran napas berat seperti pneumonia. Oleh karena itu pemberian imunisasi DPT dapat mencegah pneumonia.
g.    Defesiensi Vit A
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pemberian Vit A berguna dalam mengurangi beratnya penyakit dan mencegah terjadinya kematian akibat pneumonia. Pemberian Vit A di khususkan pada balita berumur 6 bulan sampai 2 tahun yang di rawat di RS karena campak dan komplikasi pneumonia. Oleh karena itu jika anak menderita pneumonia tetapi telah memperoleh Vit A sebelumnya dalam jangka waktu tertentu, maka anak tersebut tidak akan menderita pneumonia berat dan dapat mencegah mortalitas.
2.7    PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan secara umum yaitu :
a.    Oksigen 1-2 l/menit
b.    Infus Dextrose 10% : NACL 0,9% =3:1
c.    Jika sesak tidak terlalu hebat, dapat di mulai makanan enteral bertahap melaui selang nasogastrik dengan feeding drip
d.    Jika sekresi lendir berlebihan dapat di berikan inhalasi dengan salin normal dan beta agonis untuk memperbaiki transpor mukosilier
e.    Berikan antibiotika jika penderita telah di tetapkan sebagai pneumonia.
Pada tahun 1997, pemerintah Indonesia mulai memperkenalkan manajemen tatalaksana baru yaitu MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit) yang terintegrasi dan di terapkan sebagai acuan program penanggulangan ISPA pneumonia di pelayanan kesehatan dasar. Adapun tatalaksananya adalah meliputi :
a.    Pemeriksaan
b.    Penentuan ada tidaknya bahaya
c.    Penentuan klasifikasi penyakit
d.    Pengobatan dan tindakan
Tata Laksana Therapy
1.    Bagi penderita pneumonia, di berikan antibiotika per oral selama 5 hari. Antibiotika yang di gunakan adalah kotrimoksasol (480 mg dan 120 mg) dan Paracetamol (500mg dan 100mg). akan tetapi pada bayi berumur kurang dari 2 bulan, tidak di anjurkan untuk di berikan pengobatan antibiotika per oral maupun paracetamol.
2.    Tindakan yang di berikan pada penderita pneumonia berat adalah di rawat di RS. Ada beberapa tanda bahaya yang menunjukkan anak menderita penyakit yang sangat berat di mana jika anak mempunyai salah satu tanda bahaya tersebut maka perlu segera di rujuk ke RS yaitu:
•    Pada anak umur 2 bulan - <5 tahun tanda bahaya tsb antara lain kurang bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor atau mengalami gizi buruk.
•    Pada anak umur <2 bulan : kurang bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, wheezing, demam atau dingin.
•    Penderita sangat muda atau tua : mengalami keadaan klinis berat yaitu sesak napas, kesadaran menurun, serta gambaran kelainan toraks cukup luas, adanya riwayat penyakit lain (bronkiektasis atau bronkitis kronik, adanya komplikasi dan tidak adanya respon terhadap pengobatan yang telah di berikan.
3.    Pemberian oksigen terutama pada anak yang cyanosis
4.    Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Pneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang mengenai parenkim paru. Pneumonia pada anak dibedakan menjadi:
1)      Pneumonia lobaris
2)      Pneumonia interstisial (bronkiolitis)
3)      Bronkopneumonia.
Pneumonia adalah salah satu penyakit yang menyerang saluran nafas bagian bawah yang terbanyak kasusnya didapatkan di praktek-praktek dokter atau rumah sakit dan sering menyebabkan kematian terbesar bagi penyakit saluran nafas bawah yang menyerang anak-anak dan balita hampir di seluruh dunia. Diperkirakan pneumonia banyak terjadi pada bayi kurang dari 2 bulan, oleh karena itu pengobatan penderita pneumonia dapat menurunkan angka kematian anak.

3.2 SARAN
Penyakit pneumonia sebenarnya merupakan manifestasi dari rendahnya daya tahan tubuh seseorang akibat adanya peningkatan kuman patogen seperti bakteri yang menyerang saluran pernapasan.
Dalam keadaan sehat pada paru tidak akan terjadi pertumbuhan mikroorganisme, keadaan ini disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan paru. Terdapatnya bakteri di dalam paru merupakan ketidak seimbangan antara daya tahan tubuh, sehingga mikroorganisme dapat berkembang biak dan berakibat timbulnya infeksi penyakit.
Oleh karena itu sangat di perlukan menjaga daya tahan tubuh dengan memperhatikan nutrisi dan kesehatan tubuh, terutama untuk ibu ibu agar lebih memperhatikan kesehatan anak karena anak lebih rentan beresiko terkena penyakit yang di sebabkan daya tahan tubuh mereka yang masih lemah. Pemberian ASI sangat di butuhkan oleh bayi dengan tujuan untuk membentuk imun si bayi tersebut agar terbentuk lebih kuat dalam menghadapi resiko terkena penayakit.
Kita harus lebih memperhatikan resiko penyebab yang memungkinkan terkenanya pneumonia seperti misalnya gizi buruk, defesiensi Vit A, pemberian ASI dan imunisasi. Untuk mencegah hal tsb, ibu ibu sebaiknya memperhatikan gizi si anak,memberikan ASI pada bayinya, kelengkapan imunisasi dan selalu waspada terhadap tanda bahaya jika si anak mengalami infeksi saluran napas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar